
(Narcissus dalam Mitologi Yunani)
“Dasar Narsis…!!!” atau “Narsis lu…!!!”
Frenz…kalau saya perhatikan, ungkapan ini seperti menjadi sebuah tren baru di tengah-tengah kita. Seringkali, kita mengucapkan kalimat ini, ketika ada seorang teman membangga-banggakan diri di depan kita.
Fenomena ini menimbulkan tanda tanya besar dalam benak saya: “Sebenarnya, apa sih narsis itu? Dan, apakah narsis termasuk perbuatan dosa?”
Pengertian Narsis
Narsisme merupakan salah satu bentuk gangguan kepribadian (personality disorder), merujuk pada pola-pola perilaku yang merusak hubungan dengan orang-orang lain di sekelilingnya. Gejalanya antara lain rasa kagum yang berlebih-lebihan pada diri sendiri, merasa selalu berhasil dan unggul, selalu mencari perhatian dan pujian, dan tidak peka terhadap perasaan dan kebutuhan orang lain.
Frenz…kalau saya perhatikan, ungkapan ini seperti menjadi sebuah tren baru di tengah-tengah kita. Seringkali, kita mengucapkan kalimat ini, ketika ada seorang teman membangga-banggakan diri di depan kita.
Fenomena ini menimbulkan tanda tanya besar dalam benak saya: “Sebenarnya, apa sih narsis itu? Dan, apakah narsis termasuk perbuatan dosa?”
Pengertian Narsis
Narsisme merupakan salah satu bentuk gangguan kepribadian (personality disorder), merujuk pada pola-pola perilaku yang merusak hubungan dengan orang-orang lain di sekelilingnya. Gejalanya antara lain rasa kagum yang berlebih-lebihan pada diri sendiri, merasa selalu berhasil dan unggul, selalu mencari perhatian dan pujian, dan tidak peka terhadap perasaan dan kebutuhan orang lain.
Istilah ini berasal dari kata Narcissus, nama seorang pemuda tampan dalam mitos Yunani kuno.Konon suatu hari Narcissus menangkap citra wajahnya pada permukaan air yang tenang di hutan, dan sontak ia jatuh cinta pada diri sendiri. Selanjutnya ia putus asa karena tidak mampu memenuhi apa yang sangat diinginkannya; ia bunuh diri dengan sebilah belati. Dari tetesan darahnya yang jatuh di dekat air, tumbuhlah bunga yang sampai sekarang dikenal dengan nama Narcissus.
Dari penjelasan di atas, kita bisa memahami bahwa kekaguman pada diri sendiri secara berlebihan bisa membuat kita selalu lapar untuk memuaskan kebutuhan dan kepentingan diri sendiri, selalu mencari perhatian dan pujian, serta tidak peka terhadap perasaan dan kebutuhan orang lain.
Narsis: Dosa atau Tidak ???
Pertama, dalam Keluaran 20:3, firman Tuhan berkata, “Jangan ada padamu allah lain di hadapanku.” Jadi, kita dilarang untuk mencintai “yang lain” menyamai atau melebihi cinta kita kepada Tuhan. Hal serupa ditekankan dalam Matius 10:37-39; 16:24.
Meski ayat-ayat itu kelihatannya tidak berhubungan dengan narsisme, tapi pesannya sangat jelas, yakni kita tidak boleh mencintai apapun, termasuk diri sendiri, melebihi cinta kita kepada Tuhan.
Kedua, orang narsis memiliki kecenderungan menjadi orang egois. Tentu hal ini bertentangan dengan kehendak Tuhan. Karena Tuhan selalu mengajarkan kepada kita tentang kasih dan kepedulian kepada orang lain (Matius 22:39).
Kerendahan Hati
Narsis: Dosa atau Tidak ???
Pertama, dalam Keluaran 20:3, firman Tuhan berkata, “Jangan ada padamu allah lain di hadapanku.” Jadi, kita dilarang untuk mencintai “yang lain” menyamai atau melebihi cinta kita kepada Tuhan. Hal serupa ditekankan dalam Matius 10:37-39; 16:24.
Meski ayat-ayat itu kelihatannya tidak berhubungan dengan narsisme, tapi pesannya sangat jelas, yakni kita tidak boleh mencintai apapun, termasuk diri sendiri, melebihi cinta kita kepada Tuhan.
Kedua, orang narsis memiliki kecenderungan menjadi orang egois. Tentu hal ini bertentangan dengan kehendak Tuhan. Karena Tuhan selalu mengajarkan kepada kita tentang kasih dan kepedulian kepada orang lain (Matius 22:39).
Kerendahan Hati
Frenz…mencintai diri sendiri sesuatu yang baik, tapi (tentu) selama dalam kadar normal, alias gak over. Karena kalo kita nggak mencintai diri kita sendiri, sama artinya kita tidak mensyukuri anugerah Tuhan. Tapi, mengingat bahaya narsisme, kita harus belajar untuk rendah hati, dan menempatkan Tuhan sebagai “The Number One” in our life
Tidak ada komentar:
Posting Komentar